Social Media Online Vs Brand Perusahaan
Semakin hari semakin pesat perkembangan dunia online (internet), dengan pesatnya perkembangan teknologi internet semakin mendekati apa yang kita rasakan didunia nyata (offline). Apa yang kita lakukan didunia offline, sudah hampir sama dengan apa yang kita lakukan sehari-hari didunia online.
Didunia online (sama halnya dengan dunia offline) kita bisa bebas berekspresi, bebas mengungkapkan segala hal. Seperti mulai dari ekspresi, cerita pribadi, pengalaman, dan bahkan tidak sedikit para pengguna internet (netter) melakukan transaksi atau berjualan didunia online (maya).
Dengan hal tersebut, maka bisa kita katakan bahwa aktivitas dunia online lebih powerfull dibandingkan dengan media cetak ataupun media televisi. Nah jika sudah seperti itu, hal ini harus sudah menjadi perhatian atau bahkan wapada bagi pemilik perusahaan ataupun brand owner terhadap yang dinamakan social media online. Karena didunia online (maya) segala hal dapat terjadi, bahkan bisa sampai merugikan perusahaan atau brand.
Kenapa? Hal ini dikarenakan bebasnya para konsumen utuk berekspresi didunia online dan di social media, yang mereka bebas mengeluarkan segala keluhan atas salah satu produk atau brand yang dianggap mereka merugikan.
Dahulu produsen bisa berkomunikasi satu arah akibatnya suara konsumen yang negatif nyaris tak berkutik karena keterbatasan dana maupun tempat di media cetak. Sekarang konsumen memiliki kuasa untuk menentukan branding dan secara tak langsung menentukan pencitraan dan kelangsungan hidup produsen.
Kini dengan memiliki media social network seperti facebook, twitter, dan blog, konsumen bisa bebas menuliskan baik dan buruknya suatu produk atau layanan atau brand. Akibatnya dikala berita tersebut sampai pada konsumen yang memiliki pengalaman yang sama, maka berita ini akan mudah tersebar secara viral dan akan terjadi pembahasan yang dapat menguatkan berita tersebut.
Media internet sebagai media online marketing dapat menyebabkan besarnya populasi early adopters di internet, penyampaian berita yang subjective oleh individu melalui social network justru menjadi berita yang paling dipercaya.
Karena dari itu brand harus menjadi humanis, Brand tak boleh lagi memperhatikan tuntutan profit semata, tapi juga bagaimana melayani dengan karakter yang lebih social dengan prosumen. Dan haru diingat kekuatan media online dalam menentukan arus perspective dan pencitraan seseorang.
Bahkan sekarang banyak perusahaan yang mulai beralih bersocial media untuk mendatangkan customer, untuk promosi product mereka. (dikutip dari jimmy)
This arcilte keeps it real, no doubt.